Showing posts with label My heart says. Show all posts
Showing posts with label My heart says. Show all posts

Thursday, 1 December 2016

Bersyukurlah Jika Kamu Seorang Jomblo

Sore ini mendung. Sepoi angin dingin menusuk hidung yang kian tersumbat. Dan bersyukurlah jika kamu seorang jomblo, Kawan. Karena saya adalah emak-emak pengejar impian. Lantas apa korelasinya dengan status jomblo? Haha... Kenapa juga harus bersyukur jika kamu seorang jomblo?

Friday, 25 November 2016

Mari Menyikapi Rush Money Dengan Bijak

Saat ini sedang hangat pembicaraan mengenai rush money. Di berbagai media sosial membahas tentang rush money. Seperti facebook, twitter, blog, dan semacamnya. Dari mereka yang bener-bener paham tentang keuangan, hingga pihak-pihak yang hanya sekadar untuk eksistensi pun turut serta menyinggung hal itu. Lalu apa, sih, rush money sebenarnya?
Rush money adalah tindakan penarikan dana yang tersimpan di bank secara besar-besaran dan bersama-sama. Penarikan tersebut dilakukan hingga mencapai nilai saldo sekecil-kecilnya bahkan tidak bersisa (nol).
Tujuannya apa?

Thursday, 10 November 2016

Silakan Nikmati (Sendiri) Jalan yang Kau Pilih

Teruntuk engkau yang telah kuuntai tutur nasihat untuk keselamatanmu,
Silakan nikmati jalan hidup yang kau pilih. Tapi tolong, nikmati saja sendiri. Mohon jangan menarikku untuk mengambil arah yang sama. Karena aku beda. Hati ini memiliki keyakinan atas Tuhan Yang Esa. Nurani ini memercayai kehidupan akhirat itu nyata adanya, dan ingin nyaman di sana. Untuk itulah aku wajib mematuhi Rabb-ku.
Tolong pahami dan hormati.
Jadi,

Wednesday, 9 November 2016

Dia Masih Sama?

Saya ada ide nulis beberapa. Tapi mood kok lagi jelek. Tepatnya bukan mood sih. Tapi stamina. Badan lemas, padahal udah makan. Entah, seperti ada sesuatu yang membuat tubuhku merasakan dominan atas energi malas.
Halaaahh ... bilang aja lagi malas dan bad mood. Gitu aja muter-muter keliling bundaran HI, haha :D
Habis gimana?
Kelas Preview Parenting dengan tema Orang Tua Kreatif gratis via telegram

Tuesday, 8 November 2016

Peniru Ulung Itu Bernama Lentera

Lentera adalah penerang. Ialah cahaya, yang memberi cerah dan warna kehidupan. Alhamdulillah aku memilikinya. Rintya Lentera Hanief, putri yang cantik, imut, cerdas dan sholeha Insya Allah Aamiin....

Saya dan suami sungguh bersyukur karena dikaruniai seorang anak yang sehat, cantik, menggemaskan, dan yang paling penting ia mudah diajak berkomunikasi. Diminta tolong pun cepat tanggap. Energinya luar biasa, namun bukan hiperaktif. Kami menyebutnya sebagai anak yang aktif dan periang. Karena itu geraknya banyak, seolah tidak bisa diam semenit saja.

Bagaimana saya bisa mendapatkan anugerah begitu indah? Allahu 'alam. Semua rahasia Allah. Hanya saja, di masa kehamilan dulu saya berusaha senantiasa mengingat dan mendekat pada Allah.
Karena ibu hamil memiliki emosi yang tidak stabil, sekuat tenaga saya mengontrolnya dengan selalu berpikir positi. Dengan cara itulah saya bisa menyuguhkan senyum untuk siapa pun. Kebetulan ketika hamil saya masih bekerja di rumah sakit swasta yang memiliki tuntutan untuk selalu ramah kepada pasien atau pun masyarakat. Jadi mau atau tidak, suka atau tidak, persediaan senyum harus selalu ada.

Begitu pun setelah ia lahir. Selain memberi asi eksklusif sampai usia 2 tahun, saya memilih makanan yang baik untuk pertumbuhannya.
Untuk perilaku, saya bekerja sama dengan suami untuk menunjukkan hal-hal yang baik saja di depan putri kami. Hasilnya ... Alhamdulillah kami bangga atasnya.
Meski terkadang khilaf itu ada, namun berusaha memperbaiki adalah yang utama. Tak dipungkiri banyak hal terjadi, sehingga saya dan suami tetap harus berjuang demi kebaikan masa depan anak kami. Dalam hal apapun itu.

Bunda dan Ayah, di usia 1000 hari pertama kehidupannya, seorang anak memerlukan asupan yang bergizi untuk tumbuh kembangnya, secara fisik, psikologis serta otak atau kecerdasan. Ini sangat penting ya, Bunda, agar kita sebagai ibu harus benar-benar bisa memerhatikan apa yang masuk ke pencernaan anak.

Selain asupan dalam makanan, asupan kata-kata dan perilaku juga tidak kalah pentingnya. Maksudnya, selain memberi makanan yang bergizi tinggi, kita sebagai orang tua harus wajib memberikan asupan kalimat-kalimat dan perilaku yang baik. Karena anak itu akan meniru setiap apa yang kita katakan maupun kerjakan. Maka benarlah orang bilang bahwa anak adalah peniru ulung. Dia sangat handal dalam mengingat dan mempraktikkan ulang apa yang didengar dan dilihatnya.

Lalu, siapa yang ingin anaknya tumbuh sehat plus menjadi cerdas dan berakhlak baik? Pasti semua angkat tangan yaaa ...
Karena itulah, Bunda dan Ayah harus memperhatikan betul perilaku diri agar tidak salah ditiru oleh anak. Dijaga lisan kita, seperti pesan Rasulullah, "Berkata yang baik atau diam."

Dikendalikan pula yang namanya emosi, karena dalam rumah tangga tidak mungkin tanpa adanya perselisihan antar suami-istri. Jangan sampai emosi meledak di depan anak. Karena hal tersebut akan cepat terserap ke sisi psikologis anak yang berimbas pada penyimpangan perilakunya. Na'udzubillah ....

Semoga tulisan pendek ini bisa bermanfaat dan membantu Ayah-Bunda dalam mengasuh dan mendidik buah hati, yaa ...

Semangat Pagi! ^_^

Pare, 08112016

Monday, 7 November 2016

Jadilah Wanita Cerdas

Ramai sekali hingga penuh dan sesak. Kalimat-kalimat membabi buta yang salah dalam penyampaian dan pemilihan kata, menurutku. Di dinding dan jendela itu, tempat kami melihat dunia. Berserakan diksi menyakitkan mata.

"Aku nggak membela. Aku, kan, cuma ngomong pendapatku." Hampir tidak pernah aku meributkan perkara yang jauh dari jangkauanku. Tapi berhubung ini tentang Islam, kuberanikan untuk membuka mulut dan mencipta perdebatan sejak sepuluh menit lalu. Untung si kecil sedang bermain dengan sang nenek. Jadi ia tidak perlu menangkap apa yang terjadi di kamar ini.

"Tapi sampeyan ngomongnya harus pake ilmu, jangan asal, Dik," jawab pria kurus itu. Melekat padanya kain sarung hijau yang belum ditanggalkan lepas salat isya.

Terkunci. Otak dan bibirku. Jujur saja dalam ilmu aku masih sangat fakir.

"Sampeyan juga kudu bisa nyaring berita, nggak boleh langsung telan. Berpikir dan beropini jangan pake emosi, tapi pake ilmu biar jadi wanita cerdas," ia menambahkan dengan mata yang enggan beralih dari layar ponsel, "ini sampeyan baca. Yang ini juga." Dia mendekat dengan ponsel mengarah di depan wajahku. Ibu jarinya nampak bergoyang naik-turun kanan-kiri pada layar ponsel.

Aku terpaku beberapa saat lalu membaca apa yang baru saja disuguhkannya. Kurang lebih lima menit kami terdiam.

"Oke. Ini penegasanku ya ... aku tidak membela gubernur itu, karena jelas kalimatnya itu salah. Tidak seharusnya dia memakai ayat Al Quran. Tapi anarki kemarin juga sangat disayangkan, Yah. Yaa ... meski mungkin ada pihak-pihak yang nggak bertanggung jawab yang memanfaatkan kondisi ini."

Aku melirik suami berharap memperoleh respon seperti sebelumnya. Namun yang ditunggu justru memejam mata sambil  merebah tubuh.

"Ealaah ... malah mapan turu*. Ya udah, Ayah capek istirahat aja, deh. Ngomongin ini nggak ada habisnya. Udah, ya, aku mau ada kelas."

Keterangan :
*) malah mapan turu = malah beranjak tidur

Pare, 07112016

Thursday, 3 November 2016

Sepoi yang Terdampar Dari Peradaban

Beberapa waktu terakhir, aku memilih untuk hengkang sementara dari peredaran media sosial. Sesekali masih intip-intip sih, hehe ... tapi hanya untuk keperluan yang memang perlu :D

Alesannya apa?

Sederhana tapi bisa dibilang lebay sih sama orang ... ialah sakit mata aja kalo buka sosial media yang isinya kalimat-kalimat vulgar dan negatif. Aduuhh... bisa mengeraskan hati itu katanya.
Juga kata Pak Erbe Sentanu dalam bukunya Quantum Ikhlas, bahwa untuk mencapai derajat ikhlas dan memeliharanya, kita musti menjauhi hal-hal berbau negatif. Agar ikhlas senantiasa terpatri dan terjaga dalam keseharian kita. Naah ...

Tentu saja hal positif dan bermanfaat itu memang lebih baik yaa... Selain mengenyangkan (otak) juga menambah tabungan pahala. Betul, nggak?
Nah, siapa sih yang nggak mau sama pahala?  ;)

Sebenernya sih, alasan logout sementara bukan 100% karena hal negatif di atas, hehe ...
Melainkan ini sedang menerima satu komitmen lain yang mewajibkan untuk fokus dan sedikit kreatif. Jadi mau nggak mau, waktu luang lebih banyak terpakai untuk itu.

See ... Malam ini sebenarnya pengen nulis sesuatu yang apik karena baru aja dapet kabar yang cukup manis. Tapi entahlah ... Apa karena baru melemparkan diri dari peradaban, jadinya nggak nemu kalimat apik yang menarik. Atau ada faktor lain. Don't know why.
Akhirnya satu paragraf kecil inilah yang tersaji. Selamat menikmati yaa... Semoga terhibur :D

"Angin malam ini, berembus cukup manis. Antara menyejukkan dan dingin. Satu sisi ingin segera memeluk ruang tempat meringkuk mencari hangat. Namun sepoi yang tak selalu hadir, memaksa untuk setia menikmati ini. Semilir sunyi yang menghantar mimpi. Lagi."

Pare, 03112016

#Rindah
#SepoiMimpi

Saturday, 22 October 2016

Hidup Tak Semanis Foto

Ketika melihat foto-foto yang berkeliaran di media sosial, seperti facebook, instagram dan lainnya, apa yang terpikirkan?
“Tergantung fotonya, dong”
Iyaa… tentu saja tergantung foto apa yang tertangkap mata.

Misal, foto wanita dengan wajah mulus, cantik, dengan balutan pakaian melekat sehingga membentuk tubuh, apa yang engkau pikirkan wahai ikhwan?
Kalau foto laki-laki berwajah tampan dengan gaya cool dan terlihat soleh, apa yang engkau pikirkan wahai akhwat?
Terus kalau foto-foto dengan wajah penuh keriangan menampilkan sedang berada di suatu tempat yang indah atau mewah, apa yang kita pikirkan? Mayoritas akan membatin, “Enak ya hidupnya si Anu.”
Padahal, tahukah apa yang sebenarnya dalam benak obyek foto tersebut? Pastikah mereka tidak memiliki masalah? Adakah jaminan hidup mereka tanpa beban?
Nggak ada, kan?
Karena hidup tak semanis yang nampak pada sebuah foto, temans.
Sejatinya manusia hidup di dunia dengan cobaan masing-masing. Ada yang diuji dengan kemewahan, kemalangan, kemiskinan, ilmu, ketampanan atau kecantikan, dan sebagainya. 
Maka untuk menghindari sangkaan, baiknya kita menghindari terlalu lama memandang sebuah foto yang terekspos. Selain menjaga pandangan, juga menjaga kita dari hal-hal yang dapat mengeraskan hati. 

#reminder

Sunday, 16 October 2016

Trial and Error

Ceritanya ini lagi nyoba aplikasi blogging perdana pake handphone. Working nggak ya? Agak rempong sih, tiap akses selalu muncul kotak peringatan izinkan akses atau tidak. Hadeehh ...
Hakikatnya aku hanya ingin bisa nulis di blog tanpa harus pegang PC.
Waduuh bahasaku haha... Yaah intinya pengen selalu bisa update tulisan aja gituu pake handphone hehe
:)

Friday, 16 September 2016

Kenangan Itu Pernah Ada, Mila (Selamat Jalan)


Mila, apa kabar? Memang, pertanyaan ini tidak lagi penting. Karena kamu telah bahagia. Akan tetapi ijinkan aku untuk menyapamu kali ini. Meski sekadar lewat angin, semoga Tuhan menyampaikannya untukmu.

Mila, terakhir kita bertemu saat resepsi pernikahanmu. Kamu nampak cantik dan anggun. Binar kedua mata itu masih kuingat jelas, tanda rasa syukur atas nikmat yang luar biasa. Sempat ada rasa iri. Karena aku masih jomblo ketika itu, hehe ….

Maafkan aku, Mila … kalimat sapa itu tidak pernah tersampaikan beberapa tahun terakhir. Selain karena tempat tinggalmu yang berpindah jauh di seberang pulau, aku pun terlalu sibuk dengan duniaku. Maukah kau memaafkanku?

Oh ya, Mila, kamu ingat? Dulu kita memiliki hobi yang sama. Bermain basket. Kita menghabiskan banyak waktu dengan teman-teman yang lain di lapangan sekolah. Hampir setiap hari, sepulang sekolah hingga sore hari.
Karena rumah yang searah, kita akan pulang bersama dengan sepeda ontel masing-masing. Sepanjang jalan bercerita tentang apa saja. Ah, apa ya yang sering kita bahas dulu? Lalu tepat di depan rumah sakit umum, kita berpisah. Kamu mengambil jalan menikung ke kiri, aku lurus ke barat. Tak jarang sambai melambaikan tangan.

Mila, sebaik-baik pengingat adalah kabar kematian. Kamu percaya itu? Aku meyakininya. Ketika kabar itu sampai di pelupuk mata, aku pun teringat padamu. Pada masa SD dan SMP kita. Juga teringat tentang bagaimana aku, bekalku. Apa-apa yang harus kuperbaiki.

Tapi tidak banyak yang bisa kukisahkan tentangmu saat ini. Meski mungkin banyak yang bilang bahwa kita bukan teman dekat, tapi kenangan itu pernah ada, Mila. Tentangmu. Biarlah piringan hitam memori itu tersimpan rapi di sini. Sampai suatu ketika ada rindu, aku akan memutarnya kembali.
Karena bagaimana pun, takdir tidak akan pernah mempertemukan kita lagi. Allah lebih menyayangimu. Namun semoga saja Dia mengijinkan untuk kita bisa bertemu lagi, di sana, tempat terindahmu kini. Surga. Aamiin.

***

Didedikasikan untukmu, Mila Widyasari. Yang telah berpulang ke rahmatullah siang tadi. Semoga suami, ketiga putri, dan keluargamu diberi tabah dan keikhlasan oleh Allah SWT. Aamiin.

Wednesday, 13 April 2016

Mengapa Menulis?

Sudah cukupkah bekal kita?

Kehidupan dunia merupakan perjalanan menuju kampung abadi yaitu akhirat. Selayaknya melakukan suatu perjalanan, tentu dalam hidup ini pun memerlukan bekal untuk sampai ke tujuan dengan selamat (baca: masuk surga). Apa bekalnya? Berupa akumulasi pahala yang nantinya akan ditimbang di Hari Penghisaban/Pembalasan. Dengannya (pahala) ... akankah mengantar kita ke surga, atau malah melempar ke neraka.

Merasa fakir pahala, saya memilih "menulis"

Wednesday, 23 March 2016

[OPINI] Dosa Penulis Cerpen Terkenal

Dia penulis terkenal. Saya yakin seperti itu. Karya-karyanya nangkring di banyak media cetak. Pertanyaan diri, "berapa ya honor yang dia terima tiap bulan? Kayaknya ngalahin pegawai kantoran." Hehe grin emotikon.

Terus terang saya belum pernah membaca karyanya. Baru malam ini saya sempatkan menengok salah satu cerpen penulis muda itu yang dimuat di media cetak. Ceilee ... sesibuk apakah diriku ini sehingga berani menggunakan kata "sempat"? Pejabat atau politikus bukan. Penulis profesional juga belum.

Lalu apa yang terjadi? Berharap mendapat inspirasi tentang ciri tulisan yang tembus media, eh malah kebingungan yang saya terima.

Begini. Secara teknik, penokohan, alur dan konflik, karya itu bagus. Sangat bagus malah. Saya belum tentu bisa membuat seperti itu. Ralat, mungkin belum untuk saat ini. Smile emotikon.
Tapi kalau bicara tentang apa yang ada dalam buku 101 Dosa Penulis Pemula karya Pak Isa Alamsyah, ternyata banyak dosa yang dilakukannya. Seperti serangan aku/saya, dia/ia dan -nya. Banyak sekali, hampir di setiap paragraf. Namun dosa-dosa itu tertutupi oleh poin-poin yang saya sebut di atas.

Sesuatu yang mengganjal hati saya sebagai seorang penulis pemula, sebenarnya sastra itu seperti apa? Apakah dosa yang ditulis oleh Pak Isa mempengaruhi kesusastraan sebuah karya yang diminati media publik?

Last but not least, jadi karya sastra seperti apa yang bisa pecah media? Terus terang saya butuh uang untuk membeli diaper si kecil.

Friday, 14 March 2014

Saya, seorang ISTRI

Saya sedang menikmati status saya sebagai seorang istri ^_^
Ya, saya telah menikah. Kalau orang bilang, usia pernikahan saya baru seumur jagung.
Ya, saya menikah pada 13-12-2013. Tanggal yg cantik kan?! hehe

Saya sangat menikmati status saya sebagai seorang istri ^_^
Meski harus bekerja (mencuci, memasak, dll) lebih berat dibanding ketika masih lajang, tapi saya sangat menikmatinya.
Karena saya mencintai suami saya, dan ingin memberikan yang terbaik untuknya, dalam hal apapun. Insya Allah Aamiin..

Ngomong-ngomong, siapa ya suami saya? :D
Suami saya adalah sosok lelaki yg paling kubanggakan saat ini, seorang ikhwan yg dulu pernah kusinggung dalam salah satu tulisan blogku

Saturday, 24 August 2013

Menghitung Bulan

Ingat lagu jadulnya tante KD (Krisdayanti) yang berjudul "Menghitung Hari"?
Kalau saya sih ingat sekali hehe.. Itu lagu ketika aku duduk di bangku SMP (kalau tidak salah :D)

Menghitung Hari
detik demi detik
masa kunanti apakan ada
Jalan cerita
kisah yang panjang
menghitung harii..

Lagu itu benar-benar menjadi hits ketika itu, karena simpel dan mudah sekali dihafal.
Tentu juga karena lagu itu bertemakan cinta.
Yaa.. lagi-lagi cinta.
Manusia mana yang tidak tertarik

Sunday, 7 July 2013

Pilih Mana - NO KOMEN atau DIAM?

Hehehe ada yang salah dengan judulnya? hihi

Bagiku tidak (mulai saat ini).
Mengapa?
Karena aku kira hanya 2 opsi itu yang harus aku pilih untuk kemudian diaplikasikan (lagi).

Alasan intinya apa?

Hmm... apa ya?  hehe

Yaa karena sedang dalam taraf belajar tentang segala hal, maka aku fikir 2 opsi itu adalah opsi yang baik. Opsi yang bisa membantu menyelami apa yang terkadang benar-benar di luar frame pemikiran kita -->

Saturday, 18 May 2013

Pengen Mondok

Aku baca-baca lagi postinganku kok banyak yg galau sih :D 
yaaa maklum lah, waktu nulis blog itu mayoritas memang kondisi hati sedang melow alias galau :D

OKE. Sekarang kita usir si galau! Wuush!
Lalu kita hadirkan spirit untuk meraih apa yg telah terangkai dalam do'a :) 

Nah, ngomong-ngomong soal do'a, pasti banyak banget ya do'a kita sama Allah, minta ini minta itu pengen ini pengen itu, iya nggak? Ngaku aja deh.. Aku aja mau ngaku ini haha :D  Gpp kok, toh mintanya ke Allah, kepada siapa lagi kalo bukan ke Allah?! Sang Pemilik Segala yg ada di bumi dan di langit..

Yup, salah satu do'aku akhir-akhir ini yg sedang getol aku panjatkan adalah

Wednesday, 1 May 2013

Alhamdulillah.. Terima Kasih..

Alhamdulillah.. 
dari lisan yg terucap, 
dari luka yg tergores, 
dari air mata yg tak kuasa tertahan, 
do'a mengalir merdu, 
syahdu. 

Alhamdulillah.. 
dan Allah pun Maha Mendengar, 
Maha Mengetahui, 
Maha Pengasih, 
Maha Penyayang.. 

Sunday, 21 April 2013

Saya Sedang GALAU?

Sesuai dengan judulnya, bahwa saya sedang GALAU.

Apa sih galau?
Banyak yang sedikit2 ngaku galau, tapi mungkin kebanyakan orang itu tidak tahu artinya secara harfiah.

Yaah.. apapun pendapat anda tentang galau, saya katakan sekali lagi bahwa saya sedang galau.

GALAU - bingung, resah, sedih, pikiran kacau, dan berujung tangis???
GALAU - familiar sekali di kalangan remaja - saya menyimpulkannya sebagai penyakit hati.
GALAU - bisa menyerang kapan saja.
GALAU - Na'udzubillah...
GALAU - God Always Listening And Understanding - Ini saya setuju ^_^

Solusi GALAU penyakit hati adalah...

Saturday, 20 April 2013

Kutemukan Cinta

Dear cinta,
tahukah kau bahwa aku bahagia saat ini? :)
Tiada apapun yang berkuasa dalam hal kesedihan maupun kebahagiaanku melainkan hanya Allah Ta'ala.
Subhanallah...

Dear cinta,
tahukah kau?
arti keluarga yang dulu aku abaikan,
arti lentera yang dulu hanya sekedar setitik cahaya nun jauh, hanya mampu kugenggam dalam mimpi, hanya mampu kutangisi dalam malam,
arti hidup yang dulu hanya sekedar kumaknai dengan mencari uang, makan, tidur,,

Sebait Lilin – Rangkailah dengan Hati

Dalam sebuah perjalanan, pernahkah kita tersesat? Kalau saya sih pernah. Dan tahukah perasaan saya ketika menemukan jalan kembali pulang? Bersyukur Alhamdulillah... 
Mungkin bagi seseorang yang tidak pernah tersesat, dia tidak akan pernah tahu bagaimana nikmatnya berada di jalan yang seharusnya ditempuh. 

Pernah merasakan gelapnya dunia? 
Contoh simple, mati lampu 1 kampung! Bagaimana rasanya? Dan ketika lampu (listrik) kembali menyala, bagaimana pula rasanya?