Showing posts with label Belajar. Show all posts
Showing posts with label Belajar. Show all posts

Saturday, 3 December 2016

Cara Bisnis Impor Barang dari China

Setelah sedikit bercurhat ria kemarin sore, kali ini saya ingin bicara tentang bisnis, biar kekinian hehe …
Dan nggak tanggung-tanggung, yang mau saya bahas adalah bisnis impor! 
Saat ini impor menjadi satu alternatif bisnis yang belum banyak diketahui masyarakat. Ia menjadi rekomendasi tahun 2016. Tentu ini merupakan peluang bagus, apalagi bisnis impor bisa memberikan keuntungan berlipat-lipat hingga 1000%.

Wuiih, serius ada? 

Thursday, 24 November 2016

Kamu, Tunggulah!


Terseok dan terengah
Mengejarmu tak akan jemu
Tertatih nan rintih
Meraihmu bukanlah semu
.
Apa kabar?
Harapku tiada kelabu
Pun setia menunggu
Kamu
.
Lihatlah,
Langit dan bumi menyatu
Mengintip tangis dalam kalbu
Menghias langkah-langkah penuh peluh

Tuesday, 8 November 2016

Peniru Ulung Itu Bernama Lentera

Lentera adalah penerang. Ialah cahaya, yang memberi cerah dan warna kehidupan. Alhamdulillah aku memilikinya. Rintya Lentera Hanief, putri yang cantik, imut, cerdas dan sholeha Insya Allah Aamiin....

Saya dan suami sungguh bersyukur karena dikaruniai seorang anak yang sehat, cantik, menggemaskan, dan yang paling penting ia mudah diajak berkomunikasi. Diminta tolong pun cepat tanggap. Energinya luar biasa, namun bukan hiperaktif. Kami menyebutnya sebagai anak yang aktif dan periang. Karena itu geraknya banyak, seolah tidak bisa diam semenit saja.

Bagaimana saya bisa mendapatkan anugerah begitu indah? Allahu 'alam. Semua rahasia Allah. Hanya saja, di masa kehamilan dulu saya berusaha senantiasa mengingat dan mendekat pada Allah.
Karena ibu hamil memiliki emosi yang tidak stabil, sekuat tenaga saya mengontrolnya dengan selalu berpikir positi. Dengan cara itulah saya bisa menyuguhkan senyum untuk siapa pun. Kebetulan ketika hamil saya masih bekerja di rumah sakit swasta yang memiliki tuntutan untuk selalu ramah kepada pasien atau pun masyarakat. Jadi mau atau tidak, suka atau tidak, persediaan senyum harus selalu ada.

Begitu pun setelah ia lahir. Selain memberi asi eksklusif sampai usia 2 tahun, saya memilih makanan yang baik untuk pertumbuhannya.
Untuk perilaku, saya bekerja sama dengan suami untuk menunjukkan hal-hal yang baik saja di depan putri kami. Hasilnya ... Alhamdulillah kami bangga atasnya.
Meski terkadang khilaf itu ada, namun berusaha memperbaiki adalah yang utama. Tak dipungkiri banyak hal terjadi, sehingga saya dan suami tetap harus berjuang demi kebaikan masa depan anak kami. Dalam hal apapun itu.

Bunda dan Ayah, di usia 1000 hari pertama kehidupannya, seorang anak memerlukan asupan yang bergizi untuk tumbuh kembangnya, secara fisik, psikologis serta otak atau kecerdasan. Ini sangat penting ya, Bunda, agar kita sebagai ibu harus benar-benar bisa memerhatikan apa yang masuk ke pencernaan anak.

Selain asupan dalam makanan, asupan kata-kata dan perilaku juga tidak kalah pentingnya. Maksudnya, selain memberi makanan yang bergizi tinggi, kita sebagai orang tua harus wajib memberikan asupan kalimat-kalimat dan perilaku yang baik. Karena anak itu akan meniru setiap apa yang kita katakan maupun kerjakan. Maka benarlah orang bilang bahwa anak adalah peniru ulung. Dia sangat handal dalam mengingat dan mempraktikkan ulang apa yang didengar dan dilihatnya.

Lalu, siapa yang ingin anaknya tumbuh sehat plus menjadi cerdas dan berakhlak baik? Pasti semua angkat tangan yaaa ...
Karena itulah, Bunda dan Ayah harus memperhatikan betul perilaku diri agar tidak salah ditiru oleh anak. Dijaga lisan kita, seperti pesan Rasulullah, "Berkata yang baik atau diam."

Dikendalikan pula yang namanya emosi, karena dalam rumah tangga tidak mungkin tanpa adanya perselisihan antar suami-istri. Jangan sampai emosi meledak di depan anak. Karena hal tersebut akan cepat terserap ke sisi psikologis anak yang berimbas pada penyimpangan perilakunya. Na'udzubillah ....

Semoga tulisan pendek ini bisa bermanfaat dan membantu Ayah-Bunda dalam mengasuh dan mendidik buah hati, yaa ...

Semangat Pagi! ^_^

Pare, 08112016

Saturday, 8 October 2016

Me Time-nya Emak-Emak

Kendala terbesar seorang emak-emak untuk 'me time' adalah rutinitas. Belanja, memasak, cuci-cuci, beres rumah, seterika, dan sebagainya. Namun yang paling menyita waktu adalah mengasuh dan menjaga baby. Jam kerjanya full 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan. Jadi saya angkat topi bagi emaks yang mampu me-manage itu semua, tanpa asisten rumah tangga, namun 'me time'-nya masih jalan terus.
Yang saya maksud di sini bukan waktu untuk diri sekadar having fun. Akan tetapi, ialah waktu untuk diri berkarya sesuai dengan passion, impian dan cita-citanya.

image by emakpintar.asia

Saya pribadi memiliki impian menjadi penulis. Sekarang sih masih ecek-ecek grin emotikon makanya masih harus belajar terus-terusan di tengah tugas kenegaraan yang tidak pernah bisa ditinggal sedikit pun grin emotikon

Karena itu saya

Wednesday, 5 October 2016

Jadi Penulis Skenario. Mau?

Masih melekat di ingatan… tentang temanku yang karyanya udah tembus televisi swasta nasional tempo hari? Siapa ya namanya? Duh, lupa! Maklumlah emak-emak banyak yang dipikirin *grin emotikon*
Pokoknya kereenn deh prestasi doi ….
Nah, siapa yang nggak pengen seperti dia? Jangan angkat tangan yaa, temans! *grin emotikon*

Syarat untuk bisa sekeren itu musti bisa nulis, kan? Tentunya harus tulisan yang baik.
Gimana biar bisa menulis yang baik? Yaa belajar :) Termasuk belajar bikin skenario film

Saturday, 16 April 2016

Hujan Permata

Banyak sekali hal yang bisa kita bincangkan. Tidak sedikit kesamaan atau cerita-cerita yang mampu mencipta senyum bahkan tawa. Hari-hari dilalui dengan hati. Tidak ada yang menyakitkan. Tidak pernah ada lelehan air dari kelopak mata kecuali karena bahagia. Dulu.

Sering aku berpikir untuk pergi. Menjauh dari lakon yang hanya menoreh luka batin. Namun mengapa sampai sekarang kakiku masih berpijak di lantai rumah beton ini? Diriku pun tidak benar-benar mengerti. Mungkin karena Rein. Atau janji pada almarhumah ibumu untuk tetap setia menjadi istri anaknya.

Kamu tahu?

PAPA MINTA PULSA!

'Tolong kirimi pulsa 50.000, Ma. Dompet Papa ketinggalan.'

Ijah mengernyit. Sms dari 088888888888.

"Oke, pakai nomer hp pun bisa," ucapnya.
 
Pspsps ... Bibir Ijah komat-kamit beberapa detik.
 
'Beres. Tunggu aja, Pa. Pulsanya udah aku kirim, dalam bentuk santet.' Sent.

"Biar tahu rasa!"

***

Fiksi Mini pertama yang aku buat di grup FB. Bersejarah ini, harus diabadikan :D

Thursday, 14 April 2016

Yang Terabaikan

Di sebuah rumah mewah ....

Plaaakkk!!!
Tamparan keras akhirnya mendarat di pipi merah itu.
 
"Ini ketujuh kalinya," ucap Winda lirih sambil memegangi pipinya.
 
"Aku akan melakukannya yang kedelapan, kesembilan bahkan keseratus!" teriak Jamil geram.


"Kau tidak sadar, Mas."
 
"Masih berani bicara!" Tangan kanan Jamil terangkat tinggi,

Wednesday, 13 April 2016

Mengapa Menulis?

Sudah cukupkah bekal kita?

Kehidupan dunia merupakan perjalanan menuju kampung abadi yaitu akhirat. Selayaknya melakukan suatu perjalanan, tentu dalam hidup ini pun memerlukan bekal untuk sampai ke tujuan dengan selamat (baca: masuk surga). Apa bekalnya? Berupa akumulasi pahala yang nantinya akan ditimbang di Hari Penghisaban/Pembalasan. Dengannya (pahala) ... akankah mengantar kita ke surga, atau malah melempar ke neraka.

Merasa fakir pahala, saya memilih "menulis"

Tuesday, 12 April 2016

Di Malam Purnama

Di malam purnama di tepi danau, Embun sumringah menatap wanita di sebelahnya. Lama tak bertemu sosok hawa membuatnya keranjingan*. Ia mengulurkan tangan, “cantik, boleh tahu namanya? Saya pria terpopuler di kompleks sini, Embun.”
.
“Yul,” jawab wanita itu singkat tanpa mengacuhkan tangan Embun.
.
Jawaban dingin itu memaksa Embun menarik tangannya dan mengikuti arah pandangan Yul yang tak berhenti mendongak.
.
“Rembulan tak lebih cantik dari paras tirusmu, Yul,” rayu Embun sambil menggaruk bulu dadanya. Sesekali ia menaikkan posisi

FOKUS


Rian bingung dengan senapan yang ada di tangannya. Tak satupun senjata pernah ia taklukkan dengan baik. Karena ia hanya melihat itu di film-film.
.
Rian mencoba untuk tenang. Fokus dengan tujuan. Dipegangnya erat senapan itu dengan pangkal terjepit di ketiak kanan. Telapak tangan kanan meraba sisi kanan senapan, lalu jari telunjuk masuk ke lubang pemantik peluru. Dan telapak tangan kiri menyangga bagian laras senapan.
.
'Ah, andai aku nggak menyanggupinya,' sesal Rian. Laki-laki paruh baya itu tak pernah mampu menolak permintaan, terlebih dari orang yang dicintai. Tapi penyesalan tak mampu mengubah situasi saat ini. Ia harus membuktikan bahwa keberaniannya bukanlah isapan jempol.
.
"Ayo, Rian, kamu pasti bisa." Sebuah suara manja membuat Rian menoleh cepat. Sesaat mereka beradu senyum.
.
"Sssttt!"

Kumpulan Fiksi Mini

Aku sedang belajar membuat Fiksi Mini, lho ... Hitung-hitung belajar merangkai kata dengan cepat. 
Beberapa judul tersusun karena sebuah event kecil-kecilan di grup Facebook. 
Dan aku akan update coretan ini sedikit demi sedikit. Maklumlaah ... namanya juga belajaarr :D


KECELAKAAN | Menghempaskan masa depan dua sejoli itu yang akan menikah besok.


AKU INGAT | Lima tahun lalu ayah berjanji memberiku seorang adik. Kini janji itu terpenuhi, tapi bukan dari ibuku.