Tuesday, 12 April 2016

FOKUS


Rian bingung dengan senapan yang ada di tangannya. Tak satupun senjata pernah ia taklukkan dengan baik. Karena ia hanya melihat itu di film-film.
.
Rian mencoba untuk tenang. Fokus dengan tujuan. Dipegangnya erat senapan itu dengan pangkal terjepit di ketiak kanan. Telapak tangan kanan meraba sisi kanan senapan, lalu jari telunjuk masuk ke lubang pemantik peluru. Dan telapak tangan kiri menyangga bagian laras senapan.
.
'Ah, andai aku nggak menyanggupinya,' sesal Rian. Laki-laki paruh baya itu tak pernah mampu menolak permintaan, terlebih dari orang yang dicintai. Tapi penyesalan tak mampu mengubah situasi saat ini. Ia harus membuktikan bahwa keberaniannya bukanlah isapan jempol.
.
"Ayo, Rian, kamu pasti bisa." Sebuah suara manja membuat Rian menoleh cepat. Sesaat mereka beradu senyum.
.
"Sssttt!"
Rian mengangguk ke arah Fanya, mengisyaratkan untuk tidak merusak konsentrasinya. Rian kembali fokus. Ia mengatupkan satu mata dan mendekatkan satu mata lain ke lubang pembidik.
.
Target Rian terletak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Hitam dan tinggi. Sepertinya itu tidaklah sulit seperti bayang kecemasan Rian. Target terlihat hanya mondar-mandir kanan dan kiri, sehingga sekali atau dua kali tembakan akan menyelesaikan segalanya. Namun malam ini hanya ada satu kesempatan.
.
Satu menit berlalu ....
.
"Ya Tuhan ... Riaann ...." Fanya kembali membuka suara.
Resah menggelayutinya.
.
Rian tak bergeming. Ia tetap fokus. Namun batinnya terusik, 'ah, wanita.'
.
"Rian ... ayolah!" Fanya terus mendesak.
.
"Sssttt ... diamlah, Sayang ... aku tak pernah melakukan ini. Kau tahu itu," jawab Rian. Setelah Fanya terlihat lebih tenang, Rian kembali mendekatkan mata ke lubang pembidik. 'Tuhan, tolong beri kelancaran,' batinnya. Dan ....
.
Dor!
.
Sekonyong Rian menurunkan senapan, untuk melihat hasil tembakannya dengan jelas.
.
"Riaann ...!" teriak Fanya.
.
"Ah ...." Rian memandang Fanya lesu, "maafkan aku, Sayang ... lain kali akan ada boneka Teddy Bear besar untukmu."
.
"Kamu jangan pulang malam ini!" teriak Fanya sewot, meninggalkan Rian dan wahana 'Shot and Got' itu. Dan orang-orangan di sana masih melenggang teratur ke kanan dan kiri.
.
Jbg, 190116

***

Cerita Mini ini sudah dipos di grup KBM bulan Januari 2016. Hanya saja belum tersimpan dengan baik dalam ruang pribadi.  Karena itulah, saya save di sini. Lumayan buat baca-baca, daripada tertimbun di grup hehe ....

No comments: