Di sebuah rumah mewah ....
Plaaakkk!!!
Tamparan keras akhirnya mendarat di pipi merah itu.
"Ini ketujuh kalinya," ucap Winda lirih sambil memegangi pipinya.
"Aku akan melakukannya yang kedelapan, kesembilan bahkan keseratus!" teriak Jamil geram.
"Kau tidak sadar, Mas."
"Masih berani bicara!" Tangan kanan Jamil terangkat tinggi,
tanda dia berhasrat mengeksekusi tamparan kedelapannya.
Tangis Winda meledak. Ia menunduk tersedu. Rambutnya berantakan, tampak beberapa helai rambut yang mulai memutih.
Jamil muak dengan suara cengeng istrinya. Merasa sudah puas, ia pergi dengan mobil mewahnya. Meninggalkan Winda terkapar dengan perih pipi juga hatinya.
"Sampai kapan, huh? Kau selalu saja meluapkan padaku dengan tangan kekarmu! Segala hal selalu kau buat besar! Aku sudah bosan dengan otoritermu! Aku jengah dengan perlakuanmu! Aku tak sudi lagi meski kau limpahi harta! Sudah cukup!" Luapan emosi Winda tak lagi terbendung. Segera ia mengambil sebuah kunci di laci, lalu bergegas menghidupkan mesin mobil. Ia pun melaju dengan kencang. Raganya tak nampak lagi kecuali jejak-jejak ban mobil di halaman tanah yang basah.
Masih di rumah itu ....
Seorang gadis kecil berambut hitam sebahu muncul dari balik pintu kamarnya.
"Ibu ... Ayah ...," serunya. Ia terdiam beberapa detik, berharap ada yang menjawab panggilannya.
"Ibuu ... Ayaah ...." Kali ini sedikit lantang. Lalu terdiam lagi. Hening.
"Ibuuu ... Ayaaahh...." Tangisnya pun pecah, memecah keheningan malam yang dingin dan bisu.
Plaaakkk!!!
Tamparan keras akhirnya mendarat di pipi merah itu.
"Ini ketujuh kalinya," ucap Winda lirih sambil memegangi pipinya.
"Aku akan melakukannya yang kedelapan, kesembilan bahkan keseratus!" teriak Jamil geram.
"Kau tidak sadar, Mas."
"Masih berani bicara!" Tangan kanan Jamil terangkat tinggi,
tanda dia berhasrat mengeksekusi tamparan kedelapannya.
Tangis Winda meledak. Ia menunduk tersedu. Rambutnya berantakan, tampak beberapa helai rambut yang mulai memutih.
Jamil muak dengan suara cengeng istrinya. Merasa sudah puas, ia pergi dengan mobil mewahnya. Meninggalkan Winda terkapar dengan perih pipi juga hatinya.
"Sampai kapan, huh? Kau selalu saja meluapkan padaku dengan tangan kekarmu! Segala hal selalu kau buat besar! Aku sudah bosan dengan otoritermu! Aku jengah dengan perlakuanmu! Aku tak sudi lagi meski kau limpahi harta! Sudah cukup!" Luapan emosi Winda tak lagi terbendung. Segera ia mengambil sebuah kunci di laci, lalu bergegas menghidupkan mesin mobil. Ia pun melaju dengan kencang. Raganya tak nampak lagi kecuali jejak-jejak ban mobil di halaman tanah yang basah.
Masih di rumah itu ....
Seorang gadis kecil berambut hitam sebahu muncul dari balik pintu kamarnya.
"Ibu ... Ayah ...," serunya. Ia terdiam beberapa detik, berharap ada yang menjawab panggilannya.
"Ibuu ... Ayaah ...." Kali ini sedikit lantang. Lalu terdiam lagi. Hening.
"Ibuuu ... Ayaaahh...." Tangisnya pun pecah, memecah keheningan malam yang dingin dan bisu.
Pernikahan tak selamanya mulus. Apapun yang terjadi, jangan sampai emosi mengalahkan akal hingga mengabaikan mereka yang berharga dari apapun.
No comments:
Post a Comment