Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Monday, 7 November 2016

Jadilah Wanita Cerdas

Ramai sekali hingga penuh dan sesak. Kalimat-kalimat membabi buta yang salah dalam penyampaian dan pemilihan kata, menurutku. Di dinding dan jendela itu, tempat kami melihat dunia. Berserakan diksi menyakitkan mata.

"Aku nggak membela. Aku, kan, cuma ngomong pendapatku." Hampir tidak pernah aku meributkan perkara yang jauh dari jangkauanku. Tapi berhubung ini tentang Islam, kuberanikan untuk membuka mulut dan mencipta perdebatan sejak sepuluh menit lalu. Untung si kecil sedang bermain dengan sang nenek. Jadi ia tidak perlu menangkap apa yang terjadi di kamar ini.

"Tapi sampeyan ngomongnya harus pake ilmu, jangan asal, Dik," jawab pria kurus itu. Melekat padanya kain sarung hijau yang belum ditanggalkan lepas salat isya.

Terkunci. Otak dan bibirku. Jujur saja dalam ilmu aku masih sangat fakir.

"Sampeyan juga kudu bisa nyaring berita, nggak boleh langsung telan. Berpikir dan beropini jangan pake emosi, tapi pake ilmu biar jadi wanita cerdas," ia menambahkan dengan mata yang enggan beralih dari layar ponsel, "ini sampeyan baca. Yang ini juga." Dia mendekat dengan ponsel mengarah di depan wajahku. Ibu jarinya nampak bergoyang naik-turun kanan-kiri pada layar ponsel.

Aku terpaku beberapa saat lalu membaca apa yang baru saja disuguhkannya. Kurang lebih lima menit kami terdiam.

"Oke. Ini penegasanku ya ... aku tidak membela gubernur itu, karena jelas kalimatnya itu salah. Tidak seharusnya dia memakai ayat Al Quran. Tapi anarki kemarin juga sangat disayangkan, Yah. Yaa ... meski mungkin ada pihak-pihak yang nggak bertanggung jawab yang memanfaatkan kondisi ini."

Aku melirik suami berharap memperoleh respon seperti sebelumnya. Namun yang ditunggu justru memejam mata sambil  merebah tubuh.

"Ealaah ... malah mapan turu*. Ya udah, Ayah capek istirahat aja, deh. Ngomongin ini nggak ada habisnya. Udah, ya, aku mau ada kelas."

Keterangan :
*) malah mapan turu = malah beranjak tidur

Pare, 07112016

Saturday, 16 April 2016

PAPA MINTA PULSA!

'Tolong kirimi pulsa 50.000, Ma. Dompet Papa ketinggalan.'

Ijah mengernyit. Sms dari 088888888888.

"Oke, pakai nomer hp pun bisa," ucapnya.
 
Pspsps ... Bibir Ijah komat-kamit beberapa detik.
 
'Beres. Tunggu aja, Pa. Pulsanya udah aku kirim, dalam bentuk santet.' Sent.

"Biar tahu rasa!"

***

Fiksi Mini pertama yang aku buat di grup FB. Bersejarah ini, harus diabadikan :D

Thursday, 14 April 2016

Yang Terabaikan

Di sebuah rumah mewah ....

Plaaakkk!!!
Tamparan keras akhirnya mendarat di pipi merah itu.
 
"Ini ketujuh kalinya," ucap Winda lirih sambil memegangi pipinya.
 
"Aku akan melakukannya yang kedelapan, kesembilan bahkan keseratus!" teriak Jamil geram.


"Kau tidak sadar, Mas."
 
"Masih berani bicara!" Tangan kanan Jamil terangkat tinggi,

Wednesday, 13 April 2016

Desember yang Basah

"Saya ingin meminang putri Bapak, untuk menjadi teman di sisa hidup saya." Mata lelaki di depanku itu memancarkan sinar kesungguhan.
 
"Kau berjanji akan membahagiakannya?" Seorang laki-laki lain yang lebih tua memastikan. Dialah ayah.

"Tentu, saya berjanji."

"Tidak akan menyakitinya?" Ayah masih belum puas.
 
 "Tidak akan pernah," jawabnya mantap.

"Baiklah,

Tuesday, 12 April 2016

Di Malam Purnama

Di malam purnama di tepi danau, Embun sumringah menatap wanita di sebelahnya. Lama tak bertemu sosok hawa membuatnya keranjingan*. Ia mengulurkan tangan, “cantik, boleh tahu namanya? Saya pria terpopuler di kompleks sini, Embun.”
.
“Yul,” jawab wanita itu singkat tanpa mengacuhkan tangan Embun.
.
Jawaban dingin itu memaksa Embun menarik tangannya dan mengikuti arah pandangan Yul yang tak berhenti mendongak.
.
“Rembulan tak lebih cantik dari paras tirusmu, Yul,” rayu Embun sambil menggaruk bulu dadanya. Sesekali ia menaikkan posisi

FOKUS


Rian bingung dengan senapan yang ada di tangannya. Tak satupun senjata pernah ia taklukkan dengan baik. Karena ia hanya melihat itu di film-film.
.
Rian mencoba untuk tenang. Fokus dengan tujuan. Dipegangnya erat senapan itu dengan pangkal terjepit di ketiak kanan. Telapak tangan kanan meraba sisi kanan senapan, lalu jari telunjuk masuk ke lubang pemantik peluru. Dan telapak tangan kiri menyangga bagian laras senapan.
.
'Ah, andai aku nggak menyanggupinya,' sesal Rian. Laki-laki paruh baya itu tak pernah mampu menolak permintaan, terlebih dari orang yang dicintai. Tapi penyesalan tak mampu mengubah situasi saat ini. Ia harus membuktikan bahwa keberaniannya bukanlah isapan jempol.
.
"Ayo, Rian, kamu pasti bisa." Sebuah suara manja membuat Rian menoleh cepat. Sesaat mereka beradu senyum.
.
"Sssttt!"

Kumpulan Fiksi Mini

Aku sedang belajar membuat Fiksi Mini, lho ... Hitung-hitung belajar merangkai kata dengan cepat. 
Beberapa judul tersusun karena sebuah event kecil-kecilan di grup Facebook. 
Dan aku akan update coretan ini sedikit demi sedikit. Maklumlaah ... namanya juga belajaarr :D


KECELAKAAN | Menghempaskan masa depan dua sejoli itu yang akan menikah besok.


AKU INGAT | Lima tahun lalu ayah berjanji memberiku seorang adik. Kini janji itu terpenuhi, tapi bukan dari ibuku.

Monday, 21 March 2016

[FIKSI MINI] Resah Menelanjangi Pikiranku

Ceritanya hari ini pengen nulis Fiksi Mini (Fikmin), yaitu cerita fiksi yang tidak terlalu banyak karakter. Di beberapa artikel, ada yang menyebutkan kalau Fikmin memiliki karakter tak lebih dari 140. Singkat banget kan? 
Tapi ternyata ada juga beberapa pendapat yang bilang bahwa Fikmin nggak melulu kudu sesingkat itu. 
Yeeeyy ....

*** 
RESAH MENELANJANGI PIKIRANKU. Kata-kata Ukhti Syifa yang disampaikannya tadi sore

[CERPEN] Ayah di Genggaman Maya

Biasanya Ayah berkunjung enam purnama sekali. Hari ini pria yang kubanggakan itu datang bersama seorang gadis kecil. Mungkin ia seusiaku. Hanya saja mulutnya memanggilku ‘mbak’. Kulit sawo matang dengan mata yang lebar. Menurutku tidak cantik, tapi bukan berarti si pemilik rambut ikal itu jelek. 

Tidak banyak yang diceritakan orang-orang di rumah tentangnya. Maya.