Wednesday, 13 April 2016

Desember yang Basah

"Saya ingin meminang putri Bapak, untuk menjadi teman di sisa hidup saya." Mata lelaki di depanku itu memancarkan sinar kesungguhan.
 
"Kau berjanji akan membahagiakannya?" Seorang laki-laki lain yang lebih tua memastikan. Dialah ayah.

"Tentu, saya berjanji."

"Tidak akan menyakitinya?" Ayah masih belum puas.
 
 "Tidak akan pernah," jawabnya mantap.

"Baiklah,

kami mempercayakan Niswa padamu, nak Fandi." Semua orang yang berkumpul di ruang tamu itu pun saling melempar senyum. Termasuk aku.
 
*** 

Aku mengamati pohon dan bunga dari balik jendela kamar. Terlihat penjaja terompet di sepanjang trotoar.

'Kau pintar, Fan. Mencari teman di sisa hidupmu, tapi kau tidak memberiku ruang. Bagaimana dengan sisa hidupku kini?' batinku tak henti bergumam.


Rrr ... Rrr ....

Ponselku bergetar. 'Ah, Yun,' gerutuku setelah melihat layar ponsel. Tak bersemangat, kuterima panggilannya.

"Halo ... Nis, kau baik-baik aja?" tanya suara dari ujung sana.

"Kenapa kau menggangguku sepagi ini?" omelku.

"Ayolah ... aku mencemaskanmu, Nis."

"Oke, aku baik-baik saja nona Yunita Fatmaa ...," jawabku malas.

"Baiklah ... Niswa, aku ingin bertanya tapi tolong jangan marah."

Alisku berkerut. Apa yang ingin ditanyakan sepupuku ini?

"Niswa?"

"Ya?"

Beberapa detik ada diam di antara percakapan telepon ini. 

"Apa kau akan berkunjung ke sana? Hari ini tepat satu tahun, kan?" tanyanya kemudian.

Seketika jantungku seolah terhunjam belati, menembus dalam hingga mematikan seluruh syarafku termasuk lidahku.

"Nis, tolong katakanlah meski aku sudah tahu jawabanmu."


Aku tidak memberi jawaban. Entah malas atau tidak tahu harus mengucapkan kalimat apa.

"Nis, kau marah?" Suara Yun terdengar memaksa.

'Yun yang naif,' batinku. Tiba-tiba bulir bening mengalir dari pelupuk mata tanpa permisi. Kuakhiri panggilan itu, karena tak ingin ia mendengar isak yg tak terbendung.

***

Semua orang meraung, kecuali aku. Hanya jiwa ini deras dengan aliran rindu, sederas hujan di malam tahun baru.
Aku menggenggam erat jemari Fandi, "kau harus kuat melawan kanker ini, Fan, kau sudah berjanji bahwa kita akan bahagia besok."

'Mengapa ragamu begitu dingin, Fan? Bahkan melengkungkan lesung pipimu pun enggan,' tanya batinku.

***


Kamu terdiam di sana. Pun sukmaku. Bersama embun-embun menyeruak di sudut mata. Kata-kata indahmu masih terngiang, "terima kasih telah memberi kebahagiaan di sisa hidupku, Sayang." Lalu kau tertidur.

'Fan, inikah cintamu? Mencari kebahagiaan di sisa hidupmu, dengan mencuri kebahagiaan di perjalanan hidupku.'

Aku masih mengunci mulutku, menunggu batu nisan itu menjawab pertanyaanku.

***

Pare, 311215 (edited)

*Cerita mini ini terposting di KBM pada akhir tahun 2015, dalam rangka partisipasi event.

No comments: