Banyak sekali hal yang bisa kita bincangkan. Tidak sedikit kesamaan atau cerita-cerita yang mampu mencipta senyum bahkan tawa. Hari-hari dilalui dengan hati. Tidak ada yang menyakitkan. Tidak pernah ada lelehan air dari kelopak mata kecuali karena bahagia. Dulu.
Sering aku berpikir untuk pergi. Menjauh dari lakon yang hanya menoreh luka batin. Namun mengapa sampai sekarang kakiku masih berpijak di lantai rumah beton ini? Diriku pun tidak benar-benar mengerti. Mungkin karena Rein. Atau janji pada almarhumah ibumu untuk tetap setia menjadi istri anaknya.
Kamu tahu?
Sebenarnya aku cukup menyesal telah berjanji seperti itu. Jika tahu ia tetap akan pergi, maka mulutku tidak perlu mengucap kata "iya". Kukira malaikat pencabut nyawa akan membatalkan tugasnya setelah mendengar ucapanku itu. Tapi ternyata kesungguhan dari lubuk hati tidak membantu.
Sebenarnya aku cukup menyesal telah berjanji seperti itu. Jika tahu ia tetap akan pergi, maka mulutku tidak perlu mengucap kata "iya". Kukira malaikat pencabut nyawa akan membatalkan tugasnya setelah mendengar ucapanku itu. Tapi ternyata kesungguhan dari lubuk hati tidak membantu.
Rein. Nama yang kau berikan karena memiliki arti permata dalam bahasa Jepang. Pun pengucapannya mirip dengan kata rain yang berarti hujan. Di hari ketujuh pasce persalinan, sudah kukatakan untuk mencari nama lain yang bermakna sama. Karena aku tidak menyukai filosofi buatanmu. Kamu menyukai hujan, sedangkan aku tidak. Namun nama adalah tanggung jawab suami, ayah dari si anak. Begitu katamu. Aku tidak tahu kamu mendapat ilmu itu dari ustad mana. Jadi hatiku mencoba merelakan, mendengar Rein kecil mungil itu merengek ketika kita berdebat perkara itu. Apakah bayi sepasar* sudah peka?
***
Belum selesai yaa ... tunggu lanjutan ceritanyaa ... ^_^
No comments:
Post a Comment