Thursday, 1 December 2016
Bersyukurlah Jika Kamu Seorang Jomblo
Thursday, 24 November 2016
Kamu, Tunggulah!
Terseok dan terengah
Mengejarmu tak akan jemu
Tertatih nan rintih
Meraihmu bukanlah semu
.
Apa kabar?
Harapku tiada kelabu
Pun setia menunggu
Kamu
.
Lihatlah,
Langit dan bumi menyatu
Mengintip tangis dalam kalbu
Menghias langkah-langkah penuh peluh
Wednesday, 9 November 2016
Dia Masih Sama?
Halaaahh ... bilang aja lagi malas dan bad mood. Gitu aja muter-muter keliling bundaran HI, haha :D
Kelas Preview Parenting dengan tema Orang Tua Kreatif gratis via telegram
Monday, 7 November 2016
Jadilah Wanita Cerdas
Ramai sekali hingga penuh dan sesak. Kalimat-kalimat membabi buta yang salah dalam penyampaian dan pemilihan kata, menurutku. Di dinding dan jendela itu, tempat kami melihat dunia. Berserakan diksi menyakitkan mata.
"Aku nggak membela. Aku, kan, cuma ngomong pendapatku." Hampir tidak pernah aku meributkan perkara yang jauh dari jangkauanku. Tapi berhubung ini tentang Islam, kuberanikan untuk membuka mulut dan mencipta perdebatan sejak sepuluh menit lalu. Untung si kecil sedang bermain dengan sang nenek. Jadi ia tidak perlu menangkap apa yang terjadi di kamar ini.
"Tapi sampeyan ngomongnya harus pake ilmu, jangan asal, Dik," jawab pria kurus itu. Melekat padanya kain sarung hijau yang belum ditanggalkan lepas salat isya.
Terkunci. Otak dan bibirku. Jujur saja dalam ilmu aku masih sangat fakir.
"Sampeyan juga kudu bisa nyaring berita, nggak boleh langsung telan. Berpikir dan beropini jangan pake emosi, tapi pake ilmu biar jadi wanita cerdas," ia menambahkan dengan mata yang enggan beralih dari layar ponsel, "ini sampeyan baca. Yang ini juga." Dia mendekat dengan ponsel mengarah di depan wajahku. Ibu jarinya nampak bergoyang naik-turun kanan-kiri pada layar ponsel.
Aku terpaku beberapa saat lalu membaca apa yang baru saja disuguhkannya. Kurang lebih lima menit kami terdiam.
"Oke. Ini penegasanku ya ... aku tidak membela gubernur itu, karena jelas kalimatnya itu salah. Tidak seharusnya dia memakai ayat Al Quran. Tapi anarki kemarin juga sangat disayangkan, Yah. Yaa ... meski mungkin ada pihak-pihak yang nggak bertanggung jawab yang memanfaatkan kondisi ini."
Aku melirik suami berharap memperoleh respon seperti sebelumnya. Namun yang ditunggu justru memejam mata sambil merebah tubuh.
"Ealaah ... malah mapan turu*. Ya udah, Ayah capek istirahat aja, deh. Ngomongin ini nggak ada habisnya. Udah, ya, aku mau ada kelas."
Keterangan :
*) malah mapan turu = malah beranjak tidur
Pare, 07112016
Thursday, 3 November 2016
Sepoi yang Terdampar Dari Peradaban
Beberapa waktu terakhir, aku memilih untuk hengkang sementara dari peredaran media sosial. Sesekali masih intip-intip sih, hehe ... tapi hanya untuk keperluan yang memang perlu :D
Alesannya apa?
Sederhana tapi bisa dibilang lebay sih sama orang ... ialah sakit mata aja kalo buka sosial media yang isinya kalimat-kalimat vulgar dan negatif. Aduuhh... bisa mengeraskan hati itu katanya.
Juga kata Pak Erbe Sentanu dalam bukunya Quantum Ikhlas, bahwa untuk mencapai derajat ikhlas dan memeliharanya, kita musti menjauhi hal-hal berbau negatif. Agar ikhlas senantiasa terpatri dan terjaga dalam keseharian kita. Naah ...
Tentu saja hal positif dan bermanfaat itu memang lebih baik yaa... Selain mengenyangkan (otak) juga menambah tabungan pahala. Betul, nggak?
Nah, siapa sih yang nggak mau sama pahala? ;)
Sebenernya sih, alasan logout sementara bukan 100% karena hal negatif di atas, hehe ...
Melainkan ini sedang menerima satu komitmen lain yang mewajibkan untuk fokus dan sedikit kreatif. Jadi mau nggak mau, waktu luang lebih banyak terpakai untuk itu.
See ... Malam ini sebenarnya pengen nulis sesuatu yang apik karena baru aja dapet kabar yang cukup manis. Tapi entahlah ... Apa karena baru melemparkan diri dari peradaban, jadinya nggak nemu kalimat apik yang menarik. Atau ada faktor lain. Don't know why.
Akhirnya satu paragraf kecil inilah yang tersaji. Selamat menikmati yaa... Semoga terhibur :D
"Angin malam ini, berembus cukup manis. Antara menyejukkan dan dingin. Satu sisi ingin segera memeluk ruang tempat meringkuk mencari hangat. Namun sepoi yang tak selalu hadir, memaksa untuk setia menikmati ini. Semilir sunyi yang menghantar mimpi. Lagi."
Pare, 03112016
#Rindah
#SepoiMimpi
Saturday, 22 October 2016
Hidup Tak Semanis Foto
Nggak ada, kan?
Sunday, 16 October 2016
Trial and Error
Ceritanya ini lagi nyoba aplikasi blogging perdana pake handphone. Working nggak ya? Agak rempong sih, tiap akses selalu muncul kotak peringatan izinkan akses atau tidak. Hadeehh ...
Hakikatnya aku hanya ingin bisa nulis di blog tanpa harus pegang PC.
Waduuh bahasaku haha... Yaah intinya pengen selalu bisa update tulisan aja gituu pake handphone hehe
:)
Saturday, 8 October 2016
Me Time-nya Emak-Emak
Saturday, 1 October 2016
Wednesday, 13 April 2016
Mengapa Menulis?
Wednesday, 23 March 2016
[OPINI] Dosa Penulis Cerpen Terkenal
Terus terang saya belum pernah membaca karyanya. Baru malam ini saya sempatkan menengok salah satu cerpen penulis muda itu yang dimuat di media cetak. Ceilee ... sesibuk apakah diriku ini sehingga berani menggunakan kata "sempat"? Pejabat atau politikus bukan. Penulis profesional juga belum.
Lalu apa yang terjadi? Berharap mendapat inspirasi tentang ciri tulisan yang tembus media, eh malah kebingungan yang saya terima.
Begini. Secara teknik, penokohan, alur dan konflik, karya itu bagus. Sangat bagus malah. Saya belum tentu bisa membuat seperti itu. Ralat, mungkin belum untuk saat ini. Smile emotikon.
Tapi kalau bicara tentang apa yang ada dalam buku 101 Dosa Penulis Pemula karya Pak Isa Alamsyah, ternyata banyak dosa yang dilakukannya. Seperti serangan aku/saya, dia/ia dan -nya. Banyak sekali, hampir di setiap paragraf. Namun dosa-dosa itu tertutupi oleh poin-poin yang saya sebut di atas.
Sesuatu yang mengganjal hati saya sebagai seorang penulis pemula, sebenarnya sastra itu seperti apa? Apakah dosa yang ditulis oleh Pak Isa mempengaruhi kesusastraan sebuah karya yang diminati media publik?
Last but not least, jadi karya sastra seperti apa yang bisa pecah media? Terus terang saya butuh uang untuk membeli diaper si kecil.
Tuesday, 22 March 2016
Opini Atau Artikel Apa?
Tapi sepertinya hati masih ada bisik-bisik excuse (alasan).
"Ah, kayaknya susah nih si kecil gangguin terus jadi nggak bisa fokus nulis."
"Kayaknya nulis artikel agak ribet karena butuh data, nggak hanya sekedar tulisan jenis opini yang santai dan bebas."
Monday, 21 March 2016
[ODOP] Saya Ingin Bergabung, Bang Syaiha!
Monday, 28 September 2015
Penulis Profesional dengan Pundi-pundi Pahala ...?
Thursday, 4 June 2015
Saya Bersyukur
tidak perlu menunjuk siapapun.
Saya belajar dari kesalahan-kesalahan saya.
Maka saya harus legowo,
lebih berbesar hati.
Karena dari semua ini, saya makin memahami banyak hal.
Saya bersyukur dengan ini,
sangat bersyukur ^_^ Alhamdulillah
Lucu Sekali "Negeri" Ini
Monday, 25 May 2015
Saya ingin menulis
Menulis hal yang tidak mampu terungkap lewat bibir
Meski saya tidak tahu harus menuliskan seperti apa
Tapi jemari hanya ingin bermain di atas keyboard ini
Mungkin terkesan naif
Tapi...
Entahlah...
Friday, 14 March 2014
Saya, seorang ISTRI
Saturday, 24 August 2013
Menghitung Bulan
Kalau saya sih ingat sekali hehe.. Itu lagu ketika aku duduk di bangku SMP (kalau tidak salah :D)
Menghitung Hari
detik demi detik
masa kunanti apakan ada
Jalan cerita
kisah yang panjang
menghitung harii..
Lagu itu benar-benar menjadi hits ketika itu, karena simpel dan mudah sekali dihafal.
Tentu juga karena lagu itu bertemakan cinta.
Yaa.. lagi-lagi cinta.
Manusia mana yang tidak tertarik
Saturday, 20 July 2013
Kekurangan Pria (Wanita Wajib Tahu!)
Intinya berakhir pada sebuah pertanyaan yg ditujukannya padaku --> apa keistimewaan pria menurut sudut pandangku?
Asli bingung aku ga bisa jawab :D
Aku tidak pernah memikirkan hal itu, jujur. Biasanya aku cenderung menilai kekurangan-kekurangan dari pria. Entahlah.
Tapi itu pemahamanku secara dhahir (dulu).
Saat ini, pemahamanku telah berkembang. Dan jika boleh kuuraikan maksud dari kekurangan pria yg aku nilai sekarang adalah sebagai berikut :

