Showing posts with label Nasihat. Show all posts
Showing posts with label Nasihat. Show all posts

Thursday, 10 November 2016

Silakan Nikmati (Sendiri) Jalan yang Kau Pilih

Teruntuk engkau yang telah kuuntai tutur nasihat untuk keselamatanmu,
Silakan nikmati jalan hidup yang kau pilih. Tapi tolong, nikmati saja sendiri. Mohon jangan menarikku untuk mengambil arah yang sama. Karena aku beda. Hati ini memiliki keyakinan atas Tuhan Yang Esa. Nurani ini memercayai kehidupan akhirat itu nyata adanya, dan ingin nyaman di sana. Untuk itulah aku wajib mematuhi Rabb-ku.
Tolong pahami dan hormati.
Jadi,

Tuesday, 8 November 2016

Peniru Ulung Itu Bernama Lentera

Lentera adalah penerang. Ialah cahaya, yang memberi cerah dan warna kehidupan. Alhamdulillah aku memilikinya. Rintya Lentera Hanief, putri yang cantik, imut, cerdas dan sholeha Insya Allah Aamiin....

Saya dan suami sungguh bersyukur karena dikaruniai seorang anak yang sehat, cantik, menggemaskan, dan yang paling penting ia mudah diajak berkomunikasi. Diminta tolong pun cepat tanggap. Energinya luar biasa, namun bukan hiperaktif. Kami menyebutnya sebagai anak yang aktif dan periang. Karena itu geraknya banyak, seolah tidak bisa diam semenit saja.

Bagaimana saya bisa mendapatkan anugerah begitu indah? Allahu 'alam. Semua rahasia Allah. Hanya saja, di masa kehamilan dulu saya berusaha senantiasa mengingat dan mendekat pada Allah.
Karena ibu hamil memiliki emosi yang tidak stabil, sekuat tenaga saya mengontrolnya dengan selalu berpikir positi. Dengan cara itulah saya bisa menyuguhkan senyum untuk siapa pun. Kebetulan ketika hamil saya masih bekerja di rumah sakit swasta yang memiliki tuntutan untuk selalu ramah kepada pasien atau pun masyarakat. Jadi mau atau tidak, suka atau tidak, persediaan senyum harus selalu ada.

Begitu pun setelah ia lahir. Selain memberi asi eksklusif sampai usia 2 tahun, saya memilih makanan yang baik untuk pertumbuhannya.
Untuk perilaku, saya bekerja sama dengan suami untuk menunjukkan hal-hal yang baik saja di depan putri kami. Hasilnya ... Alhamdulillah kami bangga atasnya.
Meski terkadang khilaf itu ada, namun berusaha memperbaiki adalah yang utama. Tak dipungkiri banyak hal terjadi, sehingga saya dan suami tetap harus berjuang demi kebaikan masa depan anak kami. Dalam hal apapun itu.

Bunda dan Ayah, di usia 1000 hari pertama kehidupannya, seorang anak memerlukan asupan yang bergizi untuk tumbuh kembangnya, secara fisik, psikologis serta otak atau kecerdasan. Ini sangat penting ya, Bunda, agar kita sebagai ibu harus benar-benar bisa memerhatikan apa yang masuk ke pencernaan anak.

Selain asupan dalam makanan, asupan kata-kata dan perilaku juga tidak kalah pentingnya. Maksudnya, selain memberi makanan yang bergizi tinggi, kita sebagai orang tua harus wajib memberikan asupan kalimat-kalimat dan perilaku yang baik. Karena anak itu akan meniru setiap apa yang kita katakan maupun kerjakan. Maka benarlah orang bilang bahwa anak adalah peniru ulung. Dia sangat handal dalam mengingat dan mempraktikkan ulang apa yang didengar dan dilihatnya.

Lalu, siapa yang ingin anaknya tumbuh sehat plus menjadi cerdas dan berakhlak baik? Pasti semua angkat tangan yaaa ...
Karena itulah, Bunda dan Ayah harus memperhatikan betul perilaku diri agar tidak salah ditiru oleh anak. Dijaga lisan kita, seperti pesan Rasulullah, "Berkata yang baik atau diam."

Dikendalikan pula yang namanya emosi, karena dalam rumah tangga tidak mungkin tanpa adanya perselisihan antar suami-istri. Jangan sampai emosi meledak di depan anak. Karena hal tersebut akan cepat terserap ke sisi psikologis anak yang berimbas pada penyimpangan perilakunya. Na'udzubillah ....

Semoga tulisan pendek ini bisa bermanfaat dan membantu Ayah-Bunda dalam mengasuh dan mendidik buah hati, yaa ...

Semangat Pagi! ^_^

Pare, 08112016

Friday, 16 September 2016

Kenangan Itu Pernah Ada, Mila (Selamat Jalan)


Mila, apa kabar? Memang, pertanyaan ini tidak lagi penting. Karena kamu telah bahagia. Akan tetapi ijinkan aku untuk menyapamu kali ini. Meski sekadar lewat angin, semoga Tuhan menyampaikannya untukmu.

Mila, terakhir kita bertemu saat resepsi pernikahanmu. Kamu nampak cantik dan anggun. Binar kedua mata itu masih kuingat jelas, tanda rasa syukur atas nikmat yang luar biasa. Sempat ada rasa iri. Karena aku masih jomblo ketika itu, hehe ….

Maafkan aku, Mila … kalimat sapa itu tidak pernah tersampaikan beberapa tahun terakhir. Selain karena tempat tinggalmu yang berpindah jauh di seberang pulau, aku pun terlalu sibuk dengan duniaku. Maukah kau memaafkanku?

Oh ya, Mila, kamu ingat? Dulu kita memiliki hobi yang sama. Bermain basket. Kita menghabiskan banyak waktu dengan teman-teman yang lain di lapangan sekolah. Hampir setiap hari, sepulang sekolah hingga sore hari.
Karena rumah yang searah, kita akan pulang bersama dengan sepeda ontel masing-masing. Sepanjang jalan bercerita tentang apa saja. Ah, apa ya yang sering kita bahas dulu? Lalu tepat di depan rumah sakit umum, kita berpisah. Kamu mengambil jalan menikung ke kiri, aku lurus ke barat. Tak jarang sambai melambaikan tangan.

Mila, sebaik-baik pengingat adalah kabar kematian. Kamu percaya itu? Aku meyakininya. Ketika kabar itu sampai di pelupuk mata, aku pun teringat padamu. Pada masa SD dan SMP kita. Juga teringat tentang bagaimana aku, bekalku. Apa-apa yang harus kuperbaiki.

Tapi tidak banyak yang bisa kukisahkan tentangmu saat ini. Meski mungkin banyak yang bilang bahwa kita bukan teman dekat, tapi kenangan itu pernah ada, Mila. Tentangmu. Biarlah piringan hitam memori itu tersimpan rapi di sini. Sampai suatu ketika ada rindu, aku akan memutarnya kembali.
Karena bagaimana pun, takdir tidak akan pernah mempertemukan kita lagi. Allah lebih menyayangimu. Namun semoga saja Dia mengijinkan untuk kita bisa bertemu lagi, di sana, tempat terindahmu kini. Surga. Aamiin.

***

Didedikasikan untukmu, Mila Widyasari. Yang telah berpulang ke rahmatullah siang tadi. Semoga suami, ketiga putri, dan keluargamu diberi tabah dan keikhlasan oleh Allah SWT. Aamiin.

Wednesday, 13 April 2016

Mengapa Menulis?

Sudah cukupkah bekal kita?

Kehidupan dunia merupakan perjalanan menuju kampung abadi yaitu akhirat. Selayaknya melakukan suatu perjalanan, tentu dalam hidup ini pun memerlukan bekal untuk sampai ke tujuan dengan selamat (baca: masuk surga). Apa bekalnya? Berupa akumulasi pahala yang nantinya akan ditimbang di Hari Penghisaban/Pembalasan. Dengannya (pahala) ... akankah mengantar kita ke surga, atau malah melempar ke neraka.

Merasa fakir pahala, saya memilih "menulis"

Monday, 21 March 2016

[FIKSI MINI] Resah Menelanjangi Pikiranku

Ceritanya hari ini pengen nulis Fiksi Mini (Fikmin), yaitu cerita fiksi yang tidak terlalu banyak karakter. Di beberapa artikel, ada yang menyebutkan kalau Fikmin memiliki karakter tak lebih dari 140. Singkat banget kan? 
Tapi ternyata ada juga beberapa pendapat yang bilang bahwa Fikmin nggak melulu kudu sesingkat itu. 
Yeeeyy ....

*** 
RESAH MENELANJANGI PIKIRANKU. Kata-kata Ukhti Syifa yang disampaikannya tadi sore

Friday, 22 May 2015

Kutahan Amarahku, Suamiku

Cerita ini semoga bisa menjadi hikmah bagi diri pribadi yg dhoif.

Suatu hari, dua orang wanita yang bersahabat saling bertemu dan bertukar cerita. Salah satu dari mereka lalu mengungkapkan rasa penasarannya bahwa sahabatnya terlihat sangat jarang sekali marah kepada sang suami, atas bagaimanapun perlakuan yang diterimanya. Lalu sang sahabat berkata…. 

Ketika kemarahan itu sudah sampai diubun- ubun, lalu aku masih menahannya dan mencoba tetap mendidik diriku untuk tetap mengingat, betapa jasanya yang dalam himpitan kesusahan, lelah dan penat, dia berusaha mencukupi nafkah untuk aku dan keluargaku. Dan tidak jarang pula, akhirnya dia melupakan perawatan atas dirinya sendiri.
Aku seperti halnya kamu, adalah seorang wanita yang diciptakan lebih lemah dari pada lelaki.