Di malam purnama di tepi danau, Embun
sumringah menatap wanita di sebelahnya. Lama tak bertemu sosok hawa
membuatnya keranjingan*. Ia mengulurkan tangan, “cantik, boleh tahu
namanya? Saya pria terpopuler di kompleks sini, Embun.”
.
“Yul,” jawab wanita itu singkat tanpa mengacuhkan tangan Embun.
.
Jawaban dingin itu memaksa Embun menarik tangannya dan mengikuti arah pandangan Yul yang tak berhenti mendongak.
.
“Rembulan tak lebih cantik dari paras tirusmu, Yul,” rayu Embun sambil menggaruk bulu dadanya. Sesekali ia menaikkan posisi
kacamata bulat yang melorot karena hidung peseknya. Tak lupa ia rapikan jambul ala Elvis Presley, “cintaku pun telah purnama padamu.”
.
“Yulyati. Kau mengucapkan nama itu saat ijab qabul, lalu kau mencampakkanku,” ucap Yul membuat Embun melemaskan mulut dan pipinya.
.
“Maksudnya?” tanya Embun heran.
.
“Kau belum ingat, sayang?” Wanita berkulit hitam eksotik itu menoleh.
.
Embun mengernyit dan mengangkat kedua bahunya, “Apa maksudmu, Yul?”
.
“Dayung merenggut mahkotaku, bahkan sebelum kau memilikinya!” teriak Yul.
.
Embun terbelalak tanpa kata. Ia tenggelam dalam kebingungannya.
.
“Dayung pendusta! Mengapa ia memberiku rangkaian bunga di hari pernikahan kita? Karena dia maniak! Indigo! Dia saudaramu, tapi musuhmu!" jelas Yul, "mengapa kau pergi di malam pertama kita? Hanya karena panggilan dari rumah sakit. Apa tidak ada dokter lain?” Bulir-bulir terjatuh dari pelupuk mata bulat Yul, “lalu kau tak pernah pulang ….”
.
Embun tak ingat apapun. Ia amnesia karena kecelakaan mobil. Yang ia ingat, sejak bulan lalu kakinya tak lagi berpijak pada bumi. Seperti Yul.
.
“Aku apalah tanpamu, Embun,” Yul tersedu mengingat ia bunuh diri sehari setelah mahkotanya terkoyak.
.
Kemudian, Yul menoleh ke balkon yang terletak 100 meter darinya. Matanya mengeluarkan api.
.
Terkejut, Dayung yang sedari tadi diam-diam memperhatikan Embun dan Yul langsung melompat. Ia ketakutan hingga daki di sekujur tubuh pria pengangguran itu merontok.
.
Sedetik kemudian, kilatan cahaya kemarahan dari arah danau menyambar Dayung. Dan tubuh pria jangkung itu menjadi serpihan abu.
.
*) keranjingan : rasa senang yang berlebihan (Jawa)
.
“Yul,” jawab wanita itu singkat tanpa mengacuhkan tangan Embun.
.
Jawaban dingin itu memaksa Embun menarik tangannya dan mengikuti arah pandangan Yul yang tak berhenti mendongak.
.
“Rembulan tak lebih cantik dari paras tirusmu, Yul,” rayu Embun sambil menggaruk bulu dadanya. Sesekali ia menaikkan posisi
kacamata bulat yang melorot karena hidung peseknya. Tak lupa ia rapikan jambul ala Elvis Presley, “cintaku pun telah purnama padamu.”
.
“Yulyati. Kau mengucapkan nama itu saat ijab qabul, lalu kau mencampakkanku,” ucap Yul membuat Embun melemaskan mulut dan pipinya.
.
“Maksudnya?” tanya Embun heran.
.
“Kau belum ingat, sayang?” Wanita berkulit hitam eksotik itu menoleh.
.
Embun mengernyit dan mengangkat kedua bahunya, “Apa maksudmu, Yul?”
.
“Dayung merenggut mahkotaku, bahkan sebelum kau memilikinya!” teriak Yul.
.
Embun terbelalak tanpa kata. Ia tenggelam dalam kebingungannya.
.
“Dayung pendusta! Mengapa ia memberiku rangkaian bunga di hari pernikahan kita? Karena dia maniak! Indigo! Dia saudaramu, tapi musuhmu!" jelas Yul, "mengapa kau pergi di malam pertama kita? Hanya karena panggilan dari rumah sakit. Apa tidak ada dokter lain?” Bulir-bulir terjatuh dari pelupuk mata bulat Yul, “lalu kau tak pernah pulang ….”
.
Embun tak ingat apapun. Ia amnesia karena kecelakaan mobil. Yang ia ingat, sejak bulan lalu kakinya tak lagi berpijak pada bumi. Seperti Yul.
.
“Aku apalah tanpamu, Embun,” Yul tersedu mengingat ia bunuh diri sehari setelah mahkotanya terkoyak.
.
Kemudian, Yul menoleh ke balkon yang terletak 100 meter darinya. Matanya mengeluarkan api.
.
Terkejut, Dayung yang sedari tadi diam-diam memperhatikan Embun dan Yul langsung melompat. Ia ketakutan hingga daki di sekujur tubuh pria pengangguran itu merontok.
.
Sedetik kemudian, kilatan cahaya kemarahan dari arah danau menyambar Dayung. Dan tubuh pria jangkung itu menjadi serpihan abu.
.
*) keranjingan : rasa senang yang berlebihan (Jawa)
***
Terposting di grup KBM pada 3 Januari 2016 -- dalam rangka berpartisipasi suatu event menulis Cerita Mini bertema Horor-Romantis.
No comments:
Post a Comment