Monday, 21 March 2016

[CERPEN] Ayah di Genggaman Maya

Biasanya Ayah berkunjung enam purnama sekali. Hari ini pria yang kubanggakan itu datang bersama seorang gadis kecil. Mungkin ia seusiaku. Hanya saja mulutnya memanggilku ‘mbak’. Kulit sawo matang dengan mata yang lebar. Menurutku tidak cantik, tapi bukan berarti si pemilik rambut ikal itu jelek. 

Tidak banyak yang diceritakan orang-orang di rumah tentangnya. Maya.
Nama itu saja yang mereka sebutkan ketika ia di sini. Aku pun belum pernah berkeinginan untuk bertanya macam-macam. . Sejak tiba satu jam yang lalu, Ayah duduk di ruang tamu bersama bude dan pakde yang merawatku sejak kecil. Aku tidak mendengar apa yang mereka perbincangkan, karena sedari tiga puluh menit yang lalu Maya menyeretku menuju halaman depan.
Aku tidak banyak membuka mulut. Bisa jadi karena batinku heran menangkap polah-tingkah Maya yang sok akrab dan seolah tak kenal lelah. Langkah kaki kecil itu terlihat lincah, melompat kesana-kemari. Pun ia berkisah tentang kegemarannya membaca buku cerita, bermain bola bekel, dan makan bakso. 

“Ayah mbak Wulan di mana? Om itu ya?” Sepertinya Maya mulai mencari sesuatu tentangku. Atau mungkin ia mulai kehabisan kata-kata untuk diceritakan. Tunggu ... bagaimana dirinya tahu namaku? 

“Bukan, itu pakdeku,” jawabku.  

“Trus?” 

“Itu ayahku.” Jari telunjukku mengarah pada pria tinggi berkumis tebal yang tiba-tiba menyembul dari balik pintu depan ruang tamu. Ayah. Tempatnya berdiri berjarak kurang lebih sepuluh meter dari kami bercengkerama. 

“Loh, itu ayahku, mbak.” Maya menjawab spontan. 

Hatiku berjingkat. Mendadak jantung berdetak lebih cepat. Bola mata sedikit membesar, “Itu ayahku, May....” 

“Bukan ayahe* mbak Wulan, tapi ayahku. Ayahe mbak di mana?” 

“Ayahmu itu yang di mana? Itu ayahku!” Aku mulai gemas karena pertanyaan konyol itu. Mungkin perasaanku senada dengan Maya. Tiba-tiba tangan kanannya melambai ke arah ayah yang sedari tadi memperhatikan kami dari jauh, “Ayaah...!” Ia berlari menuju ayahku. Sekilas ada senyum menghias bibirnya. 

Ayah meraih tubuh Maya dan merangkulnya. Aku lihat mereka berbicara sambil sesekali menoleh padaku. Sedetik kemudian rintik mulai membasahi rambut. Kedua mata menangkap tangan ayah melambai ke arahku, “Hujan, nduk** ... ayo masuk!” 

Tubuhku memaku. Memori otak memungut kejadian beberapa menit yang lalu dan merangkainya menjadi pertanyaan-pertanyaan tersimpan. Siapa Maya? Mengapa ia ikut-ikutan menyebut suami ibuku dengan ‘ayah’? Mengapa ayah begitu akrab dan seolah mesra dengan gadis itu? Seandainya ibu tidak tinggal jauh dari kota ini, mungkin aku bisa bertanya padanya. Batinku bergejolak. 

Hujan semakin lebat. Teriakan ayah yang memerintahkan untuk segera berteduh tidak kuacuhkan. Entah karena apa aku belum memahaminya seketika. Hingga tubuh kurusku kuyup menggigil bersama bulir-bulir yang menyeruak dari mata. 

Tuhan ... sungguh aku tidak menyukai hari ini, kecuali berkah-Mu yang baru saja menderas. Karena ia mampu memelukku dengan percikan-percikan penyembunyi cengeng yang ampuh. 

*** 

Nyanyian air hujan sayup terdengar. Aku menutup buku diary, berharap getir kenangan itu tidak terus membayang. 

Tanggal dua puluh satu Maret ini, usiaku tepat dua puluh tahun. Mungkinkah ayah akan datang? Purnama telah banyak terlewat. Aku pun tak lagi remaja. Tapi diri ini rindu kecupan lembutnya di kening. Jika sosoknya tiba, jiwaku ingin mendapat kepuasan atas pertanyaan-pertanyaan sepuluh tahun yang lalu. Apakah benar cerita dari bude tentang Maya sebagai saudara tiriku? Hatiku berhasrat hebat untuk memperoleh jawaban langsung dari mulut ayah. Keberanianku telah terkumpul penuh sekarang. . Ayah, besok adalah hari ulang tahunku. Mungkinkah ayah akan datang? . 

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ 

 Keterangan : 
*) Ayahe : Ayahnya 
**) Nduk : Panggilan untuk anak perempuan (Jawa) 

Pare, 20032016 
[Terposting dalam Grup Facebook Komunitas Bisa Menulis (KBM)]

No comments: